愛理 pheromone

Airi Ashikaga
Tokyo, Japan
1 January
O blood type
The Princess for Ashikaga's clan
A little bit Brother Complex with Ryuichi Ashikaga
Innocent-face ll Violin ll Dance ll Piano
Honey-Cologne
.:Currently in Ravenclaw:.


Visualisation : Jessica Jung/ Jung Soo Yeon (SNSD)
hubby :3
Choi Soo-Rin

Arigatou:3
Big Brother - Ryuichi Ashikaga layout: *etoile filante inspiration xxx Galerry Icons:*Lee JinKi (Onew)
Sunday, September 19, 2010 7:44 AM
`...love is just a word until someone comes along and gives it meaning...`

`The fact that she's no longer the ice princess is true.`

`My heart feels like it’ll explode.`

`There’s definitely only one today. I’m gonna whisper my love to you.`


Quote (c):
1. Anonymnous
2. Krystal Jung (edited)
3. SHINee - Electric Hearts
4. SHINee - Your Name

Labels:



comment?

A-Yo #5
7:43 AM
Dan ia masih terdiam, memainkan ujung mantel hangat yang ia kenakan dengan menggunakan kedua tangan mungilnya. Pandangannya masih menerawang, setelah beberapa sekon terfokus pada insan dengan kromosom XY yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri. Oke, iri akan artikan bahwa kali ini kehendak Soorin sendiri—menemani dirinya yang sedikit anti-sosial. Anak perempuan tunggal keluarga Ashikaga ini masih bungkam—menenggelamkan sebagian wajahnya dalam balutan syal yang ia kenakan beberapa sat yang lalu. Bukan miliknya memang—milik Soorin, dan indranya bisa merasangan fragnance familiar si pemuda melekat pada syal yang ia kenakan. Cukup, ia akan berhenti memikirkannya—ia masih belum pantas untuk itu.

She think—she is unloveable person.

Orbnya bergerak, mendapati pemuda ini kembali menanggapi kata-katanya. Resonansi yang merupakan perwakilan dari sebuah permohonan. Ia hanya akan mendengar ini sekali—Soorin memohon padanya? Hanya untuk tidak memanggilnya dengar marga—dengan Choi. Tidakkah ini cukup aneh dan patut kau pikirkan Airi Ashikaga? Coklat kayu kembar gadis muda ini masih terfokus tidak percaya, bisa dilihat dari sorot pandangannya yang kini menyiratkan sedikit terkejut. Yakin, bukan dirinya yang salah—bukan otaknya yang salah—tapi Choi Soorin ini memang berubah begitu pesat.

"...baiklah kalau begitu, Soorinkun."

Mentransformasikan kurva simetris kini muncul dalam wajah asia gadis muda bersurai blonde ini, setelah cukup lama hanya mengandalkan senyum sarkas khasnya. Berapa lama ia menggunakan topeng dinginnya ini, hng? Simple saja Airi, kurang lebih satu tahun—bahkan didepan Ryuichi sekalipun dirinya mengenakan topeng ini. Dan detik ini, she's no longer the ice princess. Tangannya kembali tergengam di balik punggung, sebelum gadis muda ini kembali meresonansikan suara soprano miliknya tenang.

"—kau tidak suka kupanggil dengan..Choi, Soorinkun?"

Seharusnya ada alasan untuk ini, rite?

Dan jangan katakan hanya demi memperbaiki hubungan antara kedua keluarga. Ashikaga dan Choi—bahkan kata permusuhan ini sebenarnya masih absurd, Choi Soorin. Otousan dan Okaasan sama sekali tidak mengerti masalahnya dengan jelas, terutama setelah dirinya mengalami sedikit konflik dengan kakak kembarnya—tanpa konversasi selama setahun belakangan. Dan ia berhasil melewatinya kok, dengan menerima fakta bahwa kakak kembarnya ini masih belum bisa menerima kalau Airi mulai membutuhkan orang lain selain dirinya. Insan berkromosom XY ini kembali terdiam, menjadi pendengar yang baik untuk sesaat—mendengarkan lawan konverasinya ini menjelaskan.

"—jadi, hanya hubungan persahabatan?"

Apa yang kau katakan, Airi?

KAMISAMA. Ia sendiri tidak mengerti apa yang ia katakan—terlontar begitu saja dari bibir mungilnya. Spontan, untuk lebih jelasnya. Termenung kembali, si pemuda mengucapkan namanya—nama depannya. Bukan permintaannya, dan bukan kehendaknya. Ditambah lagi dengan pertanyaan—masih meminta ijinnya untuk memanggil nama depannya. Airi tidak mengerti Soorin, dengan semua perlakuanmu hari ini. Orbnya bergulir melihat tangan si insan XY yang dijulurkan padanya—mengawali sebuah lembaran baru, pada dirinya dan dalam hatinya. Menjabatnya dengan tangan mungilnya. "...aku tidak pernah melarangmu untuk memanggilku dengan nama itu, Soorinkun."

Kembali tersenyum tipis.

"Arigatou, untuk semuanya."


comment?

A-Yo #4
7:42 AM
Tidakkah ini terlalu gila untuk dipikirkan dua kali, Airi?

Dan memang tidak bisa dipungkiri bahkan oleh dirinya sendiri—yang melihat pergerakan pemuda ini secara langsung dengan orb kembarnya. Aneh, untuk ukuran dirinya yang setidaknya cukup mengenal putra keluarga Choi ini. Tidak menghindar, tidak menjauh—dan kenapa opsi yang dipilih adalah mendekati dirinya? Tipuan mata—muslihat, mungkin. Tapi dirinya yakin, ia tidak sedang berada dalam dunia fantasi—bukan dunia mimpinya. Ashikaga muda ini masih bisa merasakan hawa dingin sekitarnya, merasakan suhu badannya yang sedikit meninggi tanpa ia sadar hingga detik ini. Otaknya benar-benar tidak bisa berpikir sekarang; hanya mengamati dalam diam. Niichan, ia benar-benar mengerti maksudmu sekarang.

Jadi, boleh ia simpulkan kalau Ryuichi Ashikaga ini pindah kamar, hm?

Ia tidak mengerti apa yang terjadi di asrama Choi dan kembarannya ini—hanya satu yang ia mengerti.

The fact is—niisan doesn't like him.

Masih tetap dalam hening, tidak berniat mengubah posisinya untuk lebih dekat ataupun menjauh dari si pemuda. Ia tidak ingin merasakan hal yang sama terulang lagi—sudah cukup, dan ia benar-benar menutup hati kecilnya untuk hal ini. Oke? Gadis muda bersurai blonde ini masih terdiam, mengamati sosok insan berkromosom XY yang kini bertanya pada dirinya. ...ia, sakit? Sejak kapan kau bisa menunjukkan sedikit perhatianmu ini kepada Airi, Choi Soorin? Tanda tanya besar. Dan satu lagi pertanyaan, dirinya yang benar-benar sakit atau—Soorin? Perlakuannya pada iri benar-benar berbeda, seolah berubah seratus delapan puluh derajat.

"...tidak—aku merasa..sehat, Choi."

Tidak ambil repot—jawaban yang sebenarnya cukup defensif. Orb miliknya masih tidak difokusnya, menatap pada obyek kemerahan yang mulai kembali berguguran sekon ini—karena hembusan angin yang cukup kencang. Hingga dirinya sadar, oknum tersebut berada didekatnya, begitu dekat. Tangannya dan Tangan Soorin. Ia benar-benar tidak bisa berpikir, seolah otaknya tersumbat oleh sesuatu sekarang. Kenapa oknum ini bersikap berbeda padanya? Kenapa suhu badannya semakin meningkat? Dan kenapa otaknya tidak bekerja begitu Choi Soorin menggenggam tangan mungilnya.

It because Love—

is ineffable feeling of affection and solicitude toward a person.*

Refleks.

Gadis muda ini menarik tangannya, menggenggamnya dengan tangan mungilnya yang lain. Ia tidak sakit—ia yakin, dan ia tidak terlalu bodoh, bila dirinya sakit—ia tidak akan mungkin keluar dari kamar asrama. Tapi—apa yang terjadi sekarang?And her heart beats faster and faster than before.** Masih terdiam, berusaha untuk bersikap biasa pada oknum bermarga Choi ini. "Serius—aku.." Belum mennyelesaikan kalimatnya, dan pemuda ini menyodorkan syal yang ia kenakan pada Airi. Mengatakan bahwa niisannya yang akan marah jika dirinya sakit. Benarkah? Airi rasa tidak—mungin hanya akan mengomel, tidak lebih. Tangannya meraih syal tersebut dengan tetap tenang—dalam diam.

Sebelum mulai beragumen kembali. "—arigatou, Soorinkun." Jeda. "Benar kau tidak akan sakit jika meminjamkannya padaku?" Dan dengan berakhirnya resonansi gadis muda ini, syal kepemilikan insan kelahiran Korea tersebut telah terpasang sempurna, menutupi lehernya. Satu kata lagi, pertanyaannya akan semua yang Soorin lakukan hari ini.

"Kenapa kau begitu—berubah padaku?"

Titik. Dan ia kembali membeku dalam keheningan—dengan orb yang kini terfokus pada sang pemuda, ingin tau.


* Quote (c) here—Arsa.
** Quite (c) Anonym
Abal sekali .__.a maaf~ dankarena keasyikanjadipanjang onsicalol


comment?

A-Yo #3
7:41 AM
Airi Ashikaga ini bukannya sedang menghindar, yah—tidak sedang menghindari dari apapun sebelum insan berkromosom XY ini datang. Tapi bisa dilihat sekarang, hampir tiap kali ia mendapatkan masalah—rite? Langsung ataupun tidak, contohnya saja sekaranng; berhadapan lagi dengan putra keluarga Choi tersebut setelah sekian lama. Terakhir kali bertemu dengannya, saat diperkenalkan pada si nona muda bertitle Soona. Dan, blah—memori yang cukup buruk sebenarnya, moodnya yang sedang baik jadi sedikit kacau hanya dalam beberapa sekon setelahnya. Tsche. Sekarang, apa lagi? Airi bukannya berharap, hanya saja dirinya berkonklusi bahwa menjauh dari masalah itu yang terbaik.

Dan dekat dengan Choi—ia anggap itu masalah, untuk saat ini setidaknya.

Pandangannya masih tetap tidak difokuskan pada lawan bicaranya, tidak lagi berusaha untuk beramah tamah. Menanyakan kabar? Seperti, 'apa kabar' dan bagaimanapun cara mengutarakannya? Tidak, dan maaf—ia bukan lagi tipikal seperti itu, meskipun pada orang yang ia kenal seperti yang dihadapannya sekarang ini. Membiarkan hembusan angin dengan aroma khas musim gugur tersebut kembali menerpa dirinya, diikuti dengan kedua tangan yang kini sedikit berusaha untuk merapikan surai blonde sebahunya. Sekon berikutnya, kembali hening.

Hng.

Sedikit heran—nampaknya, melihat dirinya berkata seperti itu, Choi?

Begitu pula dengan dirinya.

Kembarannya,Ryuichi Ashikaga.
Ditanyakan.

Kembali menatap si insan diikuti dengan tangan yang ia pindah pada punggung dan badan yang sedikit berayun beberapa derajat. Menghadap si insan XY tersebut sekarang—diikuti dengan kurva asimetris yang terukir diwajahnya. Menampilkan kembali sisi sarkas gadis muda Ashikaga ini. "Niisan, maksudmu? Kukira kau lebih tau karena sekamar dengannya, Choi Soorin." Kembali berhenti, diikuti dengan senyum yang mulai menghilang dari wajahnya. "Jadi—sedang apa?" Kembali memulai dengan lembaran konversasi yang baru. Tidak berminat untuk melanjutkan pembicaran yang sebelumnya, mengenai niisan atau imotoo—tidak dengan keduanya.

And seems..

..the ice pricess awaken already, eh?

..like she care.

Satu hal, mungkin ia akan mencoba menghindari suasa kaku ini dengan cepat. Memilih untuk kembali kedalam kasti sebelum ia benar-benar flu. Bisa dirinya rasakan—suhu badannya mulai meningkat sekarang, dengan kedua belah pipi yang semakin bersemu. Tsche. Berpikir, bagaimana caranya Airi? Dan kau sudah memulai pembicaraan terlebih dahulu, membuat keadaan semakin sulit, baka.


comment?

A-Yo #2
Wednesday, September 15, 2010 6:39 AM
Ia masih terdiam—menatap pada titik terjauh pandangannya yang sedikit absurd. Menarik nafas untuk beberapa saat, sebelum sekon berikutnya membiarkan oksigen yang dihirupnya ini keluar begitu saja. Jemarinya yang sedari awal memegangi sisi jembatan ini mulai berubah posisi, mengetuknya perlahan; menghasilkan sedikit harmoni yang bahkan tidak dirinya sadari sama sekali. Perlu diketahui, ia tidak benar-benar sedang melamun, pandangannya memang kosong—tapi bukan berarti otaknya tidak memikirikan sesuatu. Ashikaga muda ini sedang berpikir, ngomong-ngomong. Tentang sebongkah memori yang melekat dengan baik dalam otaknya—memori yang tidak akan pernah ia lupakan.

`What is the meaning of—Love?`
Huft.

"Ashikaga?—Ashikaga-san?"

Sekon berikutnya, auditori gadis muda bersurai pirang sebahu ini menangkap adanya resonansi, membuatnya sadar bahwa adanya makhluk lain disekitarnya. Memecah keheningan—ralat; kesendiriannya ditengah jembatan. Orb kembar sewarna coklat kayu gadis muda ini bergulir mengganti fokusnya sebelum terhenti pada okum berkromosom XY dihadapannya. Eksistensi insan yang familiar baginya—sangat familiar, makhlum sudah kenal sedari awal diriya masuk ke sekolah ini. Lagi-lagi mengulum kurva asimetris pada oknum dihadapan, tidak memberikan respon apapun.

Choi Soorin.

Tangannya kembali menggegam erat sisi jembatan, diikuti pandangan yang dialihkan dari si pemuda yang beberapa saat lalu menyapa dirinya. "Annyeong—Soorin-kun." Hng. Heran karena dia bisa berbahasa Korea dengan begitu baik? Ia belajar, dan hanya beberapa kata yang ia bisa—tidak selamanya ia harus menggunakan bahasa ibu, rite? "Tidak bersama dengan—imotoomu?" Kembali menatap si lawan konversasi, tersenyum sekilas. Sekedar basa-basi, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama—yang masih ia simpan rapat-rapat dalam memorinya. Bahkan ia tidak memberitau niisan jika dirinya sudah mengalami kejadian tidak mengenakkan itu. Tshce.

For her—

`Love, is a foolish and cruel`

—done.

...

"...tumben."

Pasalnya—Soorin dan Soona itu sulit dipisahkan, seperti dirinya dan Ryuichi dulu.


Quote (c) Anonymnous


comment?

A-Yo #1
6:38 AM
Sudah musim gugur lagi?

Dan itu berarti dirinya sudah menginjak tahun keempat—sekarang.

Kurva senyum asimetris khas anak perempuan bermarga Ashikaga ini kembali terulas dengan sempurna, menampilkan sedikit sisi sarkas dirinya. Bukan bermaksud seperti itu, hanya terkadang sisi lain dirinya ini muncul—bahkan disaat yang tidak ia kehendaki sekalipun. Tsch. Pandangannya kembali dialihkan dari titik fokus awal, membiarkan orb kembarnya ini menatap pemandangan serba kemerahan yang mulai berjatuhan—gugur untuk lebih tepatnya. Airi Ashikaga ini kembali merapatkan mantelnya, tidak akan membiarkan dirinya terkena flu ataupun semacamnya disaat seperti ini.

Kedua belah pipinya sudah bersemu merah—artikan saja sebagai sebuah pertanda bahwa kondisinya tidak begitu baik. Belum lagi dengan suhu lingkungan sekitarnya yang menurun cukup drastis, well—ia sendiri tidak bisa menjamin dirinya bisa lolos dari flu dengan mudah. Hahah. Tangan mungilnya ini dipindah, diletakkan pada belakang punggung dan sekon berikutnya anak perempuan ini menghela napas panjang. Velositas nol. Berhenenti ditengah jembatan yang tanpa adanya eksistensi makhluk hidup apapun. Orbnya bergulir, diikuti dengan tangan yang sekarang memegang sisi jembatan.

Hening.

Sesuatu yang jarang ia temui beberapa waktu belakangan.

Kali ini membiarkan surai pirangnya tertiup oleh angin—dan ia tidak lagi terganggu akan hal ini. Rambut panjang yang ia potong hingga tinggal sebahu, sekarang. Hebat, ya? Ashikaga muda ini sendiri sebenarnya cukup menyayangkannya, tapi—terkadang ingin merubah penampilan juga sih. Hahaha. Sekarang baru bisa terlihat jelas perbedaannya, rambut pendek itu ada kalanya lebih nyaman. Tersenyum tipis dan mulai melanjutkan kebiasaan buruknya.

Melamun.


Sorry, but closed—inivted only. Ngga perlu panjang deh :3a
Autumn—pagi hari, saat jam kosong.
Title (c) SHINee- A-Yo


comment?

Special #02
Sunday, July 4, 2010 9:09 AM
“Ai….bisa kesini sebentar?”

Gadis bertitle yang sama dengan frasa yang terdiri dari dua suku kata tersebut menoleh, menatap asal sumber suara yang berada tak jauh dari posisinya berada. Sosok seorang wanita berparas lembut tersebut tervisualisasikan dengan jelas pada coklat kayunya. Dibalas dengan sedikit lengkungan tipis dan anggukan kecil oleh Airi. Otaknya masih berusaha untuk kembali menata informasi yang baru saja diperoleh dirinya—mencoba mengingat semenjak kapan dirinya sedikit menjauh dari sosok okaa-san-nya ini, cukup lama eh? Melepaskan genggamannya dari pintu geser kamar miliknya—kamar yang hanya satu-satunya tidak terlalu bernuansa tradisional seperti kehendak kepala keluarga Ashikaga sekarang ini, ayahnya. Mendekat pada sosok sang ibu yang tengah menyuruhnya untuk bergerak sedikit lebih cepat lagi sekarang.

—pasti , menanyakan hal yang sama.

“Ya—okaa-san?”

Mencoba untuk ‘sedikit’ tersenyum.

“Kau masih bertengkar lagi dengan Ryuichi, Ai?”

Hanya terdiam, tidak memutuskan untuk menjawab pertanyaan yang sama ini untuk kali ini. Bagaimana pun juga, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti dirinya selain Ryuichi. Termasuk okaa-san sekalipun. Menghela napas perlahan, sedikit menunduk menghindari sorot mata ibunya. Mungkin ada satu hal lagi yang harus ia pikirkan ulang dengan baik-baik, dirinya bertengkar dengan Ryuichi. Koreksi sedikit sepertinya, sampai detik ini pun—Ai tidak akan pernah mengalami pertengkaran dengan sang kakak. Yang ia alami hanyalah sebuah perdebatan tanpa maksud yang jelas. Ichi-nii yang masih tetap terus berteguh pada pendiriannya, tidak akan melepaskan Ai—berusaha untuk teteap melindungi dirinya. Sedangkan dirinya sendiri, terjebak dalam ego-nya sendiri. Jalan pikiran yang sangat tak biasa—berlawanan. Konversasi yang semula biasa menjadi sebuah perdebatan, juga karena dirinya masih belum bisa menerima kenyataan. Bahwa sang kakak kembarnya ini tengah dekat dengan seorang gadis, Matsumoto.

“Ya—karena hal yang sama. ”

Sebuah jawaban, yang diakhiri dengan helaan napas oleh sang gadis.

“Jadi—kenapa lagi sekarang? Ryuichi masih belum merelakanmu?”

Iris coklat kayunya segera mengganti focus pandangan, beralih pada sang ibu yang melontarkan sebuah frasa yang membuatnya cukup heran. Atau mungkin terkejut untuk lebih tepatnya. Ryuichi masih belum merelakan dirinya, dengan siapa? Soo-Rin-kun? Itulah masalahnya—sedikit kesalahan pengertian oleh sang kakak kembarnya. Ia dan Soo-Rin, entitas berkromosom XY yang bernaung dalam asrama yang sama dengan sang kembarannya ini sama sekali tidak memiliki ‘hubungan’ dalam konteks yang dipermasalahkan oleh Ryuichi. Ia hanya—teman, atau mungkin sedikit lebih dari itu? Entahlah. Dan hubungannya sendiri dengan gadis muda klan Matsumoto tersebut—seolah-olah masih berusaha untuk ditutup rapat dari Airi. Bagaimana dengan isi hatinya sendiri melihat kakaknya begitu dekat dengan perempuan lain hingga sedikit melupakan dirinya? Kecewa, itu saja—dan sesekali Ai merasa bahwa dirinya membutuhkan orang lain. Yang bisa ia percaya, yang bisa mmenemaninya, yang bisa melindunginya—selain Ryuichi.

“Merelakan—eh? Seperti itulah, mungkin.”

Resonansinya terhenti.

Sebelum pada sekon berikutnya sang gadis muda melingkarkan kedua tangannya pa tangan wanita tersebut. “Okaa-san, ini tidak adil—bukan?” Resonansi yang seakan hampir menghilang, aksen yang dilingkupi dengann perasaan kecewa sang gadis muda yang seakan meluap keluar saat ini. Tepukan lembut sebagai respon dari sang wanita mendarat pada surai pirang terang miliknya, sedangkan dirinya sendiri masih belum melepaskan lingkaran tangannya pada tangan okaa-sannya ini. “Sudahlah—Ai. Sementara ini, bisakah kau jangan menghubungi pemuda itu lagi? Sampai Ryuichi sendiri bisa memahami keadaannya—bagaimana?” Satu kalimat, okaa-san juga memihak kepada Ryuichi, eh? Kali ini, memutuskan untuk sedikit memberikan anggukan perlahan. Walaupun sebenarnya cukup berat, terutama bagi dirinya yang sekarang ini. Airi bahkan terlalu rapuh untuk itu.

“Kau bisa menunggu bukan, Ai?”

Coklat kayu milik gadis bersurai tersepuh pirang ini bergulir kembali pada sorot pandangan sang ibu, menyiratkan sedikit keterpaksaan. “Ya—Ai akan berusaha untuk itu, okaa-san…” Kembali mencoba untuk mentransformasikan seulas senyum diwajahnya; yang justru membentuk lengkungan senyum kecut. Dirinya terpaksa melakukan semua ini, demi kebaikan dirinya sendiri dan juga demi kebaikan Soo-Rin. “Baguslah kalau begitu…” Sungguh, kamisama, tidak adakah yang dapat memberikan sebuah jalan keluar bagi dirinya?

—oOo—

Memutuskan komunikasi dengan sosok yang begitu ia percaya. Bahkan sekon ini menjadi sosok yang termasuk dalam predikat penting bagi Airi—sulit. Dan sekon ini, merupakan kali pertama lagi bagi dirinya untuk kembali berhubungan dengan entitas berkromosom XY dengan title Soo-Rin tersebut. Bahkan bukan hanya Ryuichi yang terasa sedikit menentang—okaa-san pun juga mengutarakan hal yang sama, sebuah solusi yang nampaknya justru membuat perasaannya sendiri akan semakin kacau. Sedangkan Ryuichi, mungkin saja kakaknya ini sedang sibuk dengan gadis yang tengah dekat dengannya itu—tidak pernah menampakkan dirinya lagi didepan Airi, bahkan disaat seharusnya menemai Airi. Seolah melupakan janji yang ia buat—bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan Ai, haha—dirinya seperti orang bodoh jika terlalu memikirkan mengenai hal ini.

Coklat kayu miliknya masih tetap terfokus pada setiap tetes cairan sewarna kristal yang jatuh dari langit. Diiringi dengan bunyi jam yang seakan jauh lebih mendominasi keadaan, terutama jika dibandingkan dengan hujan yang masih belum terlalu deras. Tangan kanan miliknya menyibakkan surai pirang yang sedikit menghalangi pandangannya, diikuti dengan coklat kayu miliknya yang bergulir kepada koordinat yang tepat disampingnya. Merasakan kehadiran seseorang—dan, merupakan sosok yang ia nanti semenjak beberapa menit yang lalu. Choi Soo-Rin, dan terhitung cukup cepat—jika posisi awalnya adalah asrama menuju clock tower ini. Mentransformasikan seulas senyum tipis pada sang pemuda, sebelum sekon berikutnya diakhiri karena pertanyaan Soo-Rin. Mengenai masalah tahun sebelumnya—dan hingga saat ini masih belum terpikir oleh dirinya.

“Bagaimana jika menemani Airi…Itu saja—tidak terlalu berat dan aneh, benarkan?”

Mengalihkan tatapannya pada langit yang masih belum menampilkan perubahan.

“Soo-Rin-kun, kau tidak marah karena aku sudah lama tidak menghubungimu bukan?”

Mencoba untuk sedikit mengungkap apa yang ia rasakan.

kecewa pada dirinya sendiri, dan apa yang ia lakukan.

Coklat kayunya sekarang kembali mengganti fokus, memvisualisasikan sosok sang kembaran yang tengah berada di tempat yang sama dengan dirinya dan Soo-Rin. “Ichii-nii….” Bukan aksen terkejut yang seharusnya ia utarakan, melainkan sedikit heran. Heran mengapa kakaknya berada di sini, dan heran mengapa sang gadis Matsumoto itu tidak berada bersamanya. Ichi-nii Sendirian. “Kenapa Ichi-nii bisa berada di—“ Resonansinya terputus, sadar jika apa yang ia katakana hanya akan memperkeruh suasanya. Ia bersama dengan entitas yang tidak terlalu disukai sang kakak. “Aku sedang—eh, sedang..mengamati hujan..” Kali ini otaknya benar-benar tidak mampu memikirkan hal yang lebih baik, alasan yang lebih masuk akal daripada mengamati hujan yang selalu saja sama setiap kali.

Seorang gadis—menuju kearah ketiganya dan berlutut mengambil sesuatu yang sepertinya miliknya. Dirinya masih terdiam mengamati tiap gerak-gerik sang gadis, tidak berusaha untuk melihat lebih jauh lagi dan sebelum sekon berikutnya ia benar-benar terdiam bagaikan patung. Gadis muda yang nampak sebaya dengannya ini menyapa Ryuichi, menyapa dengan lembut—dan, dirinya merasa bahwa ia mengenali gadis muda ini. Entahlah, masih tanda tanya besar bagi dirinya. Koreksi—sedikit kesalahan pada bongkahan ingatan dalam otaknya yang masih baru saja disusun ini. Ia tidak mungkin bisa melupakan sosok ini. Gadis muda ini—dia—yang merebut perhatiann sang kakak dari dirinya.

Ayaka Matsumoto.

Sekon berikutnya—tercekat.

“Ayaka Matsumoto, hm? Kau tak apa?”

Masih berusaha untuk beresonansi biasa. Mencoba untuk menyapa—membiarkan sang kakak untuk memikirikan ulang mengenai perubahan dalam dirinya. Airi suda belajar untukk menerima apa adanya. Sekon berikutnya, seorang lagi, entitas berkromosom XY lain dengan paras Asia yang non-familiar bagi dirinya. Mendekati gadis yang tengah mengambil sesuatu yang merupakan miliknya tersebut, dan nampaknya mereka begitu dekat satu dengan yang lainnya. Dalam coklat kayu miliknya seperti itu. Mengerling pada sosok kembarannya sekali lagi. “Siapa dia ini, Ichi-nii?” frasa yang diucapkan lembut tanpa suara hanya dengan gerakan bibir ringan. Bergulir kembali pada sang pemuda yang ditunggunya sejak awal. Yang merupakan tujuan utamanya berada ditempat ini. Tungkainya sedikit digerakkan mendekati sang pemuda hingga berakhir pada velositas nol. Tangannya menarik ujung pakaian sang pemuda memberikannya sedikit isyarat untuk sedikit lebih berhati-hati. Ia tukut hanya akan memperkeruh keadaan, oke? “Sepertinya, Airi benar-benar merepotkanmu Soo-Rin-kun… Gomennasai,” resonansi yang diucapkan dengan berbisik.

Airi, sadar.
Kau hanya akan memperkeruh suasana.
Ehem, Slow paced aja yah soalnya saya bakal sibuk ujian :3
Dan—kalau mau baca mulai dari paragraph 6 aja :3 yang bagian atas hanya flash back biasa :3


comment?