Airi Ashikaga
Tokyo, Japan
1 January
O blood type
The Princess for Ashikaga's clan
A little bit Brother Complex with Ryuichi Ashikaga
Innocent-face ll Violin ll Dance ll Piano
Honey-Cologne
.:Currently in Ravenclaw:. Visualisation : Jessica Jung/ Jung Soo Yeon (SNSD)
Tidakkah ini terlalu gila untuk dipikirkan dua kali, Airi?
Dan memang tidak bisa dipungkiri bahkan oleh dirinya sendiri—yang melihat pergerakan pemuda ini secara langsung dengan orb kembarnya. Aneh, untuk ukuran dirinya yang setidaknya cukup mengenal putra keluarga Choi ini. Tidak menghindar, tidak menjauh—dan kenapa opsi yang dipilih adalah mendekati dirinya? Tipuan mata—muslihat, mungkin. Tapi dirinya yakin, ia tidak sedang berada dalam dunia fantasi—bukan dunia mimpinya. Ashikaga muda ini masih bisa merasakan hawa dingin sekitarnya, merasakan suhu badannya yang sedikit meninggi tanpa ia sadar hingga detik ini. Otaknya benar-benar tidak bisa berpikir sekarang; hanya mengamati dalam diam. Niichan, ia benar-benar mengerti maksudmu sekarang.
Jadi, boleh ia simpulkan kalau Ryuichi Ashikaga ini pindah kamar, hm?
Ia tidak mengerti apa yang terjadi di asrama Choi dan kembarannya ini—hanya satu yang ia mengerti.
The fact is—niisan doesn't like him.
Masih tetap dalam hening, tidak berniat mengubah posisinya untuk lebih dekat ataupun menjauh dari si pemuda. Ia tidak ingin merasakan hal yang sama terulang lagi—sudah cukup, dan ia benar-benar menutup hati kecilnya untuk hal ini. Oke? Gadis muda bersurai blonde ini masih terdiam, mengamati sosok insan berkromosom XY yang kini bertanya pada dirinya. ...ia, sakit? Sejak kapan kau bisa menunjukkan sedikit perhatianmu ini kepada Airi, Choi Soorin? Tanda tanya besar. Dan satu lagi pertanyaan, dirinya yang benar-benar sakit atau—Soorin? Perlakuannya pada iri benar-benar berbeda, seolah berubah seratus delapan puluh derajat.
"...tidak—aku merasa..sehat, Choi."
Tidak ambil repot—jawaban yang sebenarnya cukup defensif. Orb miliknya masih tidak difokusnya, menatap pada obyek kemerahan yang mulai kembali berguguran sekon ini—karena hembusan angin yang cukup kencang. Hingga dirinya sadar, oknum tersebut berada didekatnya, begitu dekat. Tangannya dan Tangan Soorin. Ia benar-benar tidak bisa berpikir, seolah otaknya tersumbat oleh sesuatu sekarang. Kenapa oknum ini bersikap berbeda padanya? Kenapa suhu badannya semakin meningkat? Dan kenapa otaknya tidak bekerja begitu Choi Soorin menggenggam tangan mungilnya.
It because Love—
is ineffable feeling of affection and solicitude toward a person.*
Refleks.
Gadis muda ini menarik tangannya, menggenggamnya dengan tangan mungilnya yang lain. Ia tidak sakit—ia yakin, dan ia tidak terlalu bodoh, bila dirinya sakit—ia tidak akan mungkin keluar dari kamar asrama. Tapi—apa yang terjadi sekarang?And her heart beats faster and faster than before.** Masih terdiam, berusaha untuk bersikap biasa pada oknum bermarga Choi ini. "Serius—aku.." Belum mennyelesaikan kalimatnya, dan pemuda ini menyodorkan syal yang ia kenakan pada Airi. Mengatakan bahwa niisannya yang akan marah jika dirinya sakit. Benarkah? Airi rasa tidak—mungin hanya akan mengomel, tidak lebih. Tangannya meraih syal tersebut dengan tetap tenang—dalam diam.
Sebelum mulai beragumen kembali. "—arigatou, Soorinkun." Jeda. "Benar kau tidak akan sakit jika meminjamkannya padaku?" Dan dengan berakhirnya resonansi gadis muda ini, syal kepemilikan insan kelahiran Korea tersebut telah terpasang sempurna, menutupi lehernya. Satu kata lagi, pertanyaannya akan semua yang Soorin lakukan hari ini.
"Kenapa kau begitu—berubah padaku?"
Titik. Dan ia kembali membeku dalam keheningan—dengan orb yang kini terfokus pada sang pemuda, ingin tau.