Airi Ashikaga
Tokyo, Japan
1 January
O blood type
The Princess for Ashikaga's clan
A little bit Brother Complex with Ryuichi Ashikaga
Innocent-face ll Violin ll Dance ll Piano
Honey-Cologne
.:Currently in Ravenclaw:. Visualisation : Jessica Jung/ Jung Soo Yeon (SNSD)
Gadis bertitle yang sama dengan frasa yang terdiri dari dua suku kata tersebut menoleh, menatap asal sumber suara yang berada tak jauh dari posisinya berada. Sosok seorang wanita berparas lembut tersebut tervisualisasikan dengan jelas pada coklat kayunya. Dibalas dengan sedikit lengkungan tipis dan anggukan kecil oleh Airi. Otaknya masih berusaha untuk kembali menata informasi yang baru saja diperoleh dirinya—mencoba mengingat semenjak kapan dirinya sedikit menjauh dari sosok okaa-san-nya ini, cukup lama eh? Melepaskan genggamannya dari pintu geser kamar miliknya—kamar yang hanya satu-satunya tidak terlalu bernuansa tradisional seperti kehendak kepala keluarga Ashikaga sekarang ini, ayahnya. Mendekat pada sosok sang ibu yang tengah menyuruhnya untuk bergerak sedikit lebih cepat lagi sekarang.
—pasti , menanyakan hal yang sama.
“Ya—okaa-san?”
Mencoba untuk ‘sedikit’ tersenyum.
“Kau masih bertengkar lagi dengan Ryuichi, Ai?”
Hanya terdiam, tidak memutuskan untuk menjawab pertanyaan yang sama ini untuk kali ini. Bagaimana pun juga, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti dirinya selain Ryuichi. Termasuk okaa-san sekalipun. Menghela napas perlahan, sedikit menunduk menghindari sorot mata ibunya. Mungkin ada satu hal lagi yang harus ia pikirkan ulang dengan baik-baik, dirinya bertengkar dengan Ryuichi. Koreksi sedikit sepertinya, sampai detik ini pun—Ai tidak akan pernah mengalami pertengkaran dengan sang kakak. Yang ia alami hanyalah sebuah perdebatan tanpa maksud yang jelas. Ichi-nii yang masih tetap terus berteguh pada pendiriannya, tidak akan melepaskan Ai—berusaha untuk teteap melindungi dirinya. Sedangkan dirinya sendiri, terjebak dalam ego-nya sendiri. Jalan pikiran yang sangat tak biasa—berlawanan. Konversasi yang semula biasa menjadi sebuah perdebatan, juga karena dirinya masih belum bisa menerima kenyataan. Bahwa sang kakak kembarnya ini tengah dekat dengan seorang gadis, Matsumoto.
“Ya—karena hal yang sama. ”
Sebuah jawaban, yang diakhiri dengan helaan napas oleh sang gadis.
“Jadi—kenapa lagi sekarang? Ryuichi masih belum merelakanmu?”
Iris coklat kayunya segera mengganti focus pandangan, beralih pada sang ibu yang melontarkan sebuah frasa yang membuatnya cukup heran. Atau mungkin terkejut untuk lebih tepatnya. Ryuichi masih belum merelakan dirinya, dengan siapa? Soo-Rin-kun? Itulah masalahnya—sedikit kesalahan pengertian oleh sang kakak kembarnya. Ia dan Soo-Rin, entitas berkromosom XY yang bernaung dalam asrama yang sama dengan sang kembarannya ini sama sekali tidak memiliki ‘hubungan’ dalam konteks yang dipermasalahkan oleh Ryuichi. Ia hanya—teman, atau mungkin sedikit lebih dari itu? Entahlah. Dan hubungannya sendiri dengan gadis muda klan Matsumoto tersebut—seolah-olah masih berusaha untuk ditutup rapat dari Airi. Bagaimana dengan isi hatinya sendiri melihat kakaknya begitu dekat dengan perempuan lain hingga sedikit melupakan dirinya? Kecewa, itu saja—dan sesekali Ai merasa bahwa dirinya membutuhkan orang lain. Yang bisa ia percaya, yang bisa mmenemaninya, yang bisa melindunginya—selain Ryuichi.
“Merelakan—eh? Seperti itulah, mungkin.”
Resonansinya terhenti.
Sebelum pada sekon berikutnya sang gadis muda melingkarkan kedua tangannya pa tangan wanita tersebut. “Okaa-san, ini tidak adil—bukan?” Resonansi yang seakan hampir menghilang, aksen yang dilingkupi dengann perasaan kecewa sang gadis muda yang seakan meluap keluar saat ini. Tepukan lembut sebagai respon dari sang wanita mendarat pada surai pirang terang miliknya, sedangkan dirinya sendiri masih belum melepaskan lingkaran tangannya pada tangan okaa-sannya ini. “Sudahlah—Ai. Sementara ini, bisakah kau jangan menghubungi pemuda itu lagi? Sampai Ryuichi sendiri bisa memahami keadaannya—bagaimana?” Satu kalimat, okaa-san juga memihak kepada Ryuichi, eh? Kali ini, memutuskan untuk sedikit memberikan anggukan perlahan. Walaupun sebenarnya cukup berat, terutama bagi dirinya yang sekarang ini. Airi bahkan terlalu rapuh untuk itu.
“Kau bisa menunggu bukan, Ai?”
Coklat kayu milik gadis bersurai tersepuh pirang ini bergulir kembali pada sorot pandangan sang ibu, menyiratkan sedikit keterpaksaan. “Ya—Ai akan berusaha untuk itu, okaa-san…” Kembali mencoba untuk mentransformasikan seulas senyum diwajahnya; yang justru membentuk lengkungan senyum kecut. Dirinya terpaksa melakukan semua ini, demi kebaikan dirinya sendiri dan juga demi kebaikan Soo-Rin. “Baguslah kalau begitu…” Sungguh, kamisama, tidak adakah yang dapat memberikan sebuah jalan keluar bagi dirinya?
—oOo—
Memutuskan komunikasi dengan sosok yang begitu ia percaya. Bahkan sekon ini menjadi sosok yang termasuk dalam predikat penting bagi Airi—sulit. Dan sekon ini, merupakan kali pertama lagi bagi dirinya untuk kembali berhubungan dengan entitas berkromosom XY dengan title Soo-Rin tersebut. Bahkan bukan hanya Ryuichi yang terasa sedikit menentang—okaa-san pun juga mengutarakan hal yang sama, sebuah solusi yang nampaknya justru membuat perasaannya sendiri akan semakin kacau. Sedangkan Ryuichi, mungkin saja kakaknya ini sedang sibuk dengan gadis yang tengah dekat dengannya itu—tidak pernah menampakkan dirinya lagi didepan Airi, bahkan disaat seharusnya menemai Airi. Seolah melupakan janji yang ia buat—bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan Ai, haha—dirinya seperti orang bodoh jika terlalu memikirkan mengenai hal ini.
Coklat kayu miliknya masih tetap terfokus pada setiap tetes cairan sewarna kristal yang jatuh dari langit. Diiringi dengan bunyi jam yang seakan jauh lebih mendominasi keadaan, terutama jika dibandingkan dengan hujan yang masih belum terlalu deras. Tangan kanan miliknya menyibakkan surai pirang yang sedikit menghalangi pandangannya, diikuti dengan coklat kayu miliknya yang bergulir kepada koordinat yang tepat disampingnya. Merasakan kehadiran seseorang—dan, merupakan sosok yang ia nanti semenjak beberapa menit yang lalu. Choi Soo-Rin, dan terhitung cukup cepat—jika posisi awalnya adalah asrama menuju clock tower ini. Mentransformasikan seulas senyum tipis pada sang pemuda, sebelum sekon berikutnya diakhiri karena pertanyaan Soo-Rin. Mengenai masalah tahun sebelumnya—dan hingga saat ini masih belum terpikir oleh dirinya.
“Bagaimana jika menemani Airi…Itu saja—tidak terlalu berat dan aneh, benarkan?”
Mengalihkan tatapannya pada langit yang masih belum menampilkan perubahan.
“Soo-Rin-kun, kau tidak marah karena aku sudah lama tidak menghubungimu bukan?”
Mencoba untuk sedikit mengungkap apa yang ia rasakan.
—kecewa pada dirinya sendiri, dan apa yang ia lakukan.
Coklat kayunya sekarang kembali mengganti fokus, memvisualisasikan sosok sang kembaran yang tengah berada di tempat yang sama dengan dirinya dan Soo-Rin. “Ichii-nii….” Bukan aksen terkejut yang seharusnya ia utarakan, melainkan sedikit heran. Heran mengapa kakaknya berada di sini, dan heran mengapa sang gadis Matsumoto itu tidak berada bersamanya. Ichi-nii Sendirian. “Kenapa Ichi-nii bisa berada di—“ Resonansinya terputus, sadar jika apa yang ia katakana hanya akan memperkeruh suasanya. Ia bersama dengan entitas yang tidak terlalu disukai sang kakak. “Aku sedang—eh, sedang..mengamati hujan..” Kali ini otaknya benar-benar tidak mampu memikirkan hal yang lebih baik, alasan yang lebih masuk akal daripada mengamati hujan yang selalu saja sama setiap kali.
Seorang gadis—menuju kearah ketiganya dan berlutut mengambil sesuatu yang sepertinya miliknya. Dirinya masih terdiam mengamati tiap gerak-gerik sang gadis, tidak berusaha untuk melihat lebih jauh lagi dan sebelum sekon berikutnya ia benar-benar terdiam bagaikan patung. Gadis muda yang nampak sebaya dengannya ini menyapa Ryuichi, menyapa dengan lembut—dan, dirinya merasa bahwa ia mengenali gadis muda ini. Entahlah, masih tanda tanya besar bagi dirinya. Koreksi—sedikit kesalahan pada bongkahan ingatan dalam otaknya yang masih baru saja disusun ini. Ia tidak mungkin bisa melupakan sosok ini. Gadis muda ini—dia—yang merebut perhatiann sang kakak dari dirinya.
Ayaka Matsumoto.
Sekon berikutnya—tercekat.
“Ayaka Matsumoto, hm? Kau tak apa?”
Masih berusaha untuk beresonansi biasa. Mencoba untuk menyapa—membiarkan sang kakak untuk memikirikan ulang mengenai perubahan dalam dirinya. Airi suda belajar untukk menerima apa adanya. Sekon berikutnya, seorang lagi, entitas berkromosom XY lain dengan paras Asia yang non-familiar bagi dirinya. Mendekati gadis yang tengah mengambil sesuatu yang merupakan miliknya tersebut, dan nampaknya mereka begitu dekat satu dengan yang lainnya. Dalam coklat kayu miliknya seperti itu. Mengerling pada sosok kembarannya sekali lagi. “Siapa dia ini, Ichi-nii?” frasa yang diucapkan lembut tanpa suara hanya dengan gerakan bibir ringan. Bergulir kembali pada sang pemuda yang ditunggunya sejak awal. Yang merupakan tujuan utamanya berada ditempat ini. Tungkainya sedikit digerakkan mendekati sang pemuda hingga berakhir pada velositas nol. Tangannya menarik ujung pakaian sang pemuda memberikannya sedikit isyarat untuk sedikit lebih berhati-hati. Ia tukut hanya akan memperkeruh keadaan, oke? “Sepertinya, Airi benar-benar merepotkanmu Soo-Rin-kun…Gomennasai,” resonansi yang diucapkan dengan berbisik.
Airi, sadar. Kau hanya akan memperkeruh suasana. Ehem, Slow paced aja yah soalnya saya bakal sibuk ujian :3 Dan—kalau mau baca mulai dari paragraph 6 aja :3 yang bagian atas hanya flash back biasa :3