Airi Ashikaga ini bukannya sedang menghindar, yah—tidak sedang menghindari dari apapun sebelum insan berkromosom XY ini datang. Tapi bisa dilihat sekarang, hampir tiap kali ia mendapatkan masalah—rite? Langsung ataupun tidak, contohnya saja sekaranng; berhadapan lagi dengan putra keluarga Choi tersebut setelah sekian lama. Terakhir kali bertemu dengannya, saat diperkenalkan pada si nona muda bertitle Soona. Dan, blah—memori yang cukup buruk sebenarnya, moodnya yang sedang baik jadi sedikit kacau hanya dalam beberapa sekon setelahnya. Tsche. Sekarang, apa lagi? Airi bukannya berharap, hanya saja dirinya berkonklusi bahwa menjauh dari masalah itu yang terbaik.
Dan dekat dengan Choi—ia anggap itu masalah, untuk saat ini setidaknya.
Pandangannya masih tetap tidak difokuskan pada lawan bicaranya, tidak lagi berusaha untuk beramah tamah. Menanyakan kabar? Seperti, 'apa kabar' dan bagaimanapun cara mengutarakannya? Tidak, dan maaf—ia bukan lagi tipikal seperti itu, meskipun pada orang yang ia kenal seperti yang dihadapannya sekarang ini. Membiarkan hembusan angin dengan aroma khas musim gugur tersebut kembali menerpa dirinya, diikuti dengan kedua tangan yang kini sedikit berusaha untuk merapikan surai blonde sebahunya. Sekon berikutnya, kembali hening.
Hng.
Sedikit heran—nampaknya, melihat dirinya berkata seperti itu, Choi?
Begitu pula dengan dirinya.
Kembarannya,Ryuichi Ashikaga.
Ditanyakan.
Kembali menatap si insan diikuti dengan tangan yang ia pindah pada punggung dan badan yang sedikit berayun beberapa derajat. Menghadap si insan XY tersebut sekarang—diikuti dengan kurva asimetris yang terukir diwajahnya. Menampilkan kembali sisi sarkas gadis muda Ashikaga ini. "Niisan, maksudmu? Kukira kau lebih tau karena sekamar dengannya, Choi Soorin." Kembali berhenti, diikuti dengan senyum yang mulai menghilang dari wajahnya. "Jadi—sedang apa?" Kembali memulai dengan lembaran konversasi yang baru. Tidak berminat untuk melanjutkan pembicaran yang sebelumnya, mengenai niisan atau imotoo—tidak dengan keduanya.
And seems..