愛理 pheromone

Airi Ashikaga
Tokyo, Japan
1 January
O blood type
The Princess for Ashikaga's clan
A little bit Brother Complex with Ryuichi Ashikaga
Innocent-face ll Violin ll Dance ll Piano
Honey-Cologne
.:Currently in Ravenclaw:.


Visualisation : Jessica Jung/ Jung Soo Yeon (SNSD)
hubby :3
Choi Soo-Rin

Arigatou:3
Big Brother - Ryuichi Ashikaga layout: *etoile filante inspiration xxx Galerry Icons:*Lee JinKi (Onew)
Special #01
Sunday, July 4, 2010 9:06 AM
“Dia lagi, eh? Tidak adakah orang lain yang lebih baik, Ai?”
Jadi—apa lagi salahnya sekarang?

Terdiam.

“Tidak akan kubiarkan kau dekat dengan ‘dia’, Ai.”
Dekat dengan dia, siapa yang kau maksud ini, hm? Ryuichi Ashikaga, kakak kembar tercintanya—lawan konversasi sang gadis muda bersurai pirang ini sekarang. Yah, konversasi dengan sedikit perdebatan si kembar—membicarakan perihal entitas yang sejak semula digantikan dengan frasa yang tersusun dari beberapa alfabet tersebut. Dia—yang sedang dibicarakan oleh kedua Ashikaga ini; entitas berkromosom XY yang tengah sedikit dekat dengan Airi. Choi Soo-Rin. Nama yang tidak asing bagi dirinya—satu-satunya nama baru yang mengisi daftar dalam phonebook miliknya, dan kini dijadikan bahan konversasi oleh sang kakak kembar. Koreksi sedikit—bukan lagi konverasi, melainkan mengarah pada—perdebatan. Berujung pada kurva simetris tipis seperti biasa yang dilakukan oleh gadis bertitle Airi tersebut—sedikit bosan melanjutkan konversasi tidak jelas ini.

“Ai tidak dekat dengannya Ichi-nii. Kita hanya teman, itu saja.”

“Benarkah kalian hanya sebatas teman? Ichii-nii tidak percaya.”

Iris coklat kayu milik sang gadis kini bergulir, membalas tatapan sang kakak kembarnya tersebut dengan sedikit sebal. Benar, sebal—satu hal yang tidak bisa dihindari dari yang dirinya rasakan; sebagai seorang adik kembar yang harus menuruti apa yang dikatakan sang kakak. Sekon berikutnya diawali dengan sedikit hembusan napas dan cibiran bibir pada beberapa sekon setelahnya; ditujukan kepada sang kakak. “Lalu—bagaimana dengan nii-san sendiri?” Handphone miliknya kini berganti posisi sedikit diangkat naik, membuat strap dengan insial nama depan sang gadis muda ini berayun dengan bebas. “Ayaka Matsumoto—benar, bukan? Nii-san?” Ah, mungkin ini juga yang dinamakan sebagai teriakan kekesalan seorang gadis yang bukan tipikal pemarah? Mengacungkan handphone miliknya kepada sang kembaran, tentu saja baru pertama kali dirinya berlaku seperti ini—yang pastinya akan membuat sang kakak kembar semakin emosi.

Airi mengenai Ryuichi dengan baik—

—bahkan lebih dari otousan ataupun okaasan.

“Tidak adil jika kau boleh dekat dengan dia sedangkan aku—tidak.”

“Hal ini tidak ada hubungan dengannya. Ini tentang kita, kau mengerti, Ai?”
Tersenyum kecut.

“Benarkah tentang kita? Kalau begitu jangan bicarakan mengenai ‘dia’ lagi nii-san.”

“Ai, hanya namanya yang muncul di phonebook milikmu? Tidak bolehkah Ichii-nii sedikit meragukannya?”

Sedikit tercekat untuk beberapa sekon, seakan suara soprano khasnya tertahan di tenggorokan. Gadis dengan surai pirang terang tersebut menurunkan hanphone yang diarahkannya tepat pada koordinat sang kembaran, menghela napas panjang untuk sekon berikutnya. “Yah—apalagi yang nii-san inginkan sekarang? Menghapus Soo—” Jeda. Kesalahan yang dibuat oleh dirinya sendiri kali ini, menyebutkan nama yang jelas tidak disukai oleh sang kembaran. “—menghapus dia dari kehidupanku? Itu..sulit….nii-san.” Resonansi yang berakhir dengan aksen tak biasa, sedikit melemah karena kekecewaan entitas berkromosom kembar ini. Membalikkan kembali badannya, membiarkan sang kakak terdiam pada posisinya, ia berniat mengakhiri konversasi ini. Tidak lebih. Bahkan kalau dirinya boleh berharap, ia bisa berada di tempat yang tidak pernah bisa dijangkau sang kembaran. Menghindar dari kakak kembarnya ini sementara waktu, daripada dirinya harus menahan emosi hingga batasan yang merupakan batas teratasnya ini.

“Airi—dengarkan perkataan nii-san, kau mengerti?”

“Hmm…”

Menjawab dengan gumamam lemah, sebelum dirinya memutuskan untuk sedikit memutas posisi kepalanya menghadap sang kakak. Surai pirang terang miliknya kini berayun kesamping, sedikit menutupi pandangannya dan lebih tepatnya sengaja dibuat seperti itu. Airi, gadis muda bermarga Ashikaga ini sedang tidak ingin menatap kakak kembarnya. Lengkungan kurva tipis kembali terkembang di wajahnya, sembari pada detik berikutnya sang gadis berucap, “Gomennasai, Ichii-nii—Airi…capek. Ai kembali kekamar dulu.” Menunduk sedikit dan memalingkan kembali wajahnya pada koordinat semula. “Begitukah? Baiklah Ai. Istirahatlah, dan pikirkan ini baik-baik.” Berdeham ringan sebelum sekon berikutnya sang gadis menggerakkan tungkainya meninggalkan tempat yang ia tempati sekarang ini.

Akhir dari konversasi.

—oOo—

Sejak konversasi singkat tersebut—yang berawal dari liburan singkat dan hingga sekarang, tahun ajaran baru Hogwarts. Bahkan sang gadis bertitle Airi Ashikaga ini masih belum menemui sang kakak, perihal konversasi yang masih tetap melekat di ingatannya. Koreksi—terukir dengan sempurna, karena frasa yang diucapkan sang kakak kembar yang begitu tak biasa. Bagaimana dengan Ryuichi sendiri? Kakak kembarnya ini masih belum menunjukkan kembali tanda-tanda keberadaannya—yang biasanya berada disebelah Airi dan menemani dirinya sekarang justru menghilang entah kemana. Kesadaran Airi pribadi, kakak kembarnya sekarang ini tengah dekat dengan entitas berkromosom kembar dari klan Matsumoto. Informasi yang didapatkannya ini tidak salah bukan? Tentu tidak—seharusnya.

“Sungguh tidak adil sekali, nii-san.”

Mencibirkan bibirnya perlahan diiringi dengan iris coklat kayu yang kini terarah pada langit. Yang mulai menunjukkan tanda-tanda tak bersahabat dengannya—sebentar lagi, dan dirinya bisa menikmati fenomena alam yang selalu terjadi dimusim seperti ini. Cairan sewarna kristal yang ditumpahkan dari langit, mulai nampak, sementara gadis muda bertitle Airi ini sendiri masih belum berniat untuk beranjak dari posisinya. Terlalu enggan, terutama jika nantinya ia akan bertemu kembali dengan entitas berkromosom kembar yang akhir-akhir ini seperti menyita perhatian Ryuichi dari dirinya. Salah, mungkin dari awal sudah menyita perhatian Ryuichi. Hujan mulai mengguyur—membuat suasana clock tower tempatnya berada ini semakin terkesan sunyi. Yah, selain dirinya sedang sendirian sekarang memang tidak ada seorangpun yang bersama dengan dirinya. Hanya beberapa tumbuhan, tembok dan bla—bla-bla, hanya benda mati.

Mengeluarkan handphone yang menjadi sumber kedua perdebatannya dengan Ryuichi, menekan beberapa alpabet yang berakhir dengan nama yang familiar baginya dan pasti bagi Ryuichi juga. Choi Soo-Rin. Dan yang ia lakukan sekarang ini, mengirim text messagepada sang sumber perdebatan—koreksi, entitas yang ia percayai selain Ryuichi tentunya. Setidaknya gadis muda ini masih makhluk social, membutuhkan seseorang yang bisa diajaknya berbicara untuk saat-saat seperti ini. Terutama orang yang dapat mengerti dirinya; salahkah kalau gadis bertitle Airi ini memilih Soo-Rin, eh?
To: Soo-Rin-kun[April 20th, 2009, at 3:50PM]
Soo-Rin-kun, bisa temani aku sekarang? Di clock tower..
Gommenasai, jika aku merepotkanmu.


Beberapa sekon, dan message sent. Lengkungan kurva simetris tipis kembali nampak, sembari sang gadis muda bersandar tembok menunggu. Satu pertanyaan untukmu Airi, bagaimana jika Ryuichi menemukan bahwa dirinya masih berhubungan dengan entitas berkromosom XY dari asrama yang sama dengan kakak kembarnya itu? Urusan belakang, yang penting sekarang adalah perasaannya—bukan lagi Ryuichi. Titik.


Sesuai judulnya closed, gomen. >.<>Choi Soo-Rin, duo Matsumoto, dan Ryuichi Ashikaga.
Timeline: Hujan, sekitar pukul 4 sore hari. Tanggal 20th April

Lama 8D lupa dimasukin kata Mun


comment?