Airi Ashikaga
Tokyo, Japan
1 January
O blood type
The Princess for Ashikaga's clan
A little bit Brother Complex with Ryuichi Ashikaga
Innocent-face ll Violin ll Dance ll Piano
Honey-Cologne
.:Currently in Ravenclaw:. Visualisation : Jessica Jung/ Jung Soo Yeon (SNSD)
Satu pertanyaan : Airi keterlaluan, ya? Lebih baik tanyakan itu pada dirimu sendiri—Ai.
Gadis bersurai pirang dengan paras Oriental khas ini masih tidak bergeming, membatu dalam posisinya yang semula. Pandangannya masih belum teralihkan dari sosok insan berkromosom XY yang berada tepat pada titik fokusnya. Tidak memberikan reaksi apapun mengenai apa yang baru saja dilakukan oleh dirinya. Bukan berarti dirinya ingin ikut campur dalam masalah orang lain, hanya saja sudah sedikit terbiasa melakukan hal serupa. Terutama pada kembarannya; salahkah? Sadar Airi, tentu saja salah—yang berhadapan dengan dirinya sekarang adalah dua insan penyandang marga Choi; bukan lagi kakak kembar yang bisa mengerti tingkahmu. Sekon berikutnya, gadis bersurai pirang ini tidak lagi memilih untuk membatu; memilih untuk menarik kembali tangannya yang menggengam sapu tangan dan mengigit bibir bagian bawahnya. Masih tidak dapat membuat satu frasa apapun terlontar kembali dari bibir mungilnya. Setidaknya ia sudah berusaha untuk sedikit bersikap normal sekarang ini, tidak lagi melakukan gerakan yang bisa saja disalah artikan oleh kedua insan dihadapannya. Koklusinya : ia memilih untuk diam hingga beberapa waktu kedepan—anggap saja topeng tak berdosa itu kembali melekat dalam wajahnya.
Walaupun sebenarnya masalah sudah terjadi, lagi-lagi karena ulahnya.
Jemarinya kembali bergerak tanpa dirinya sadari, meletakkan sapu tangan yang kini telah ternodai oleh sirup maple ke atas meja. Sedikit tidak mungkin bukan, jika dirinya yang sudah sedikit kehabisan energi untuk bergerak ini masih memilih untuk berjalan jauh demi menghilangkan noda pada sapu tangan miliknya. Berdeham untuk beberapa sekon, sebelum retina gadis muda ini kembali digulirkan pada kedua insan. Yang satu masih sibuk dengan pancake seperti sedia kala; sedangkan yang lainnya kini sudah beranjak sedikit menjauh—memesan sesuatu lagi, mungkin? Terhenti pada es krim strawberry yang dipesannya beberapa waktu yang lalu, mengambil es krim tersebut dan menikmatinya dalam diam. Jangan katakanya tindakannya ini lagi-lagi salah, setidaknya ia sudah mencerna dengan otaknya sebelum bergerak lebih jauh. Tidak ingin ada masalah dengan dua insan Choi ini. Es krim dengan rasa strawberry ini mulai melegakan kerongkongannya—memberinya sedikit energi untuk bergerak, setidaknya jika hanya untuk keluar dari ruangan ini masih bisa ia lakukan.
Mendapati kembali sosok gadis muda anonim yang merupakan adik insan bertitle Soorin, membawa cangkir dalam tangannya dan mulai bergerak mendekat. Hati-hati; ralat—bisa bahaya jika cairan yang mengisi cangkir tersebut mengenai dirinya. Ah, bukan berarti Airi berharap semua itu terjadi—tapi bagaimana dengan kenyataan. Seisi cangkir tersebut membasahi surai pirangnya, garis bawahi frasa seisi itu kalau perlu tambahkan juga garis bawah ataupun tanda penerang lainnya. Satu frasa yang dapat ia ucapkan, KAMISAMA. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, eh? Bukan hanya rambut yang terkena cairan beraroma khas seperti the tapi wajahnya juga. Dirinya membuat suatu kesalahan apa hari ini, hm? Terutama pada imooto Soorin dihadapannya ini. Gadis bertitle Airi ini masih tetap terpaku, layaknya boneka yang tidak bisa melakukan apapun lagi. Bukannya ia bermaksud untuk bersikap layaknya boneka yang mau diperlakukan seperti itu—hanya saja otaknya masih berusaha untuk mencerna informasi yang baru ia dapat ini. Surainya basah sekarang, wajahnya juga (meski hanya sedikit), es krim strawberry yang seperti sudah tidak bernyawa—blah, apa lagi? Ia benar-benar tidak bisa berpikir sekarang, yang melintas dalam otaknya hanya satu hal : masih perlu memasang topeng gadis baik-baik ini, hm?
Sadar dong, mungkin seperti ini juga yang dinamakan intimidasi—mulai merancau.
Jadi tolong, jangan membuat kesabarannya habis lain waktu—terutama jika moodnya sedang tidak baik. Menatap insan berkromosom kembar disampingnya ini, diikuti dengan senyum asimetris yang tak biasa dirinya tampilkan dalam parasnya ini. Sekon berikutnya mendapatkan sedikit bantuan dari insan yang dirinya kenali, bahkan sebelum ia sempat melontarkan satu kata pun. Menghela napas sejenak, tepat setelah bantuan tersebut terselesaikan dengan baik. Transformasi senyum tipis, sekedar basa-basi dalam keterpojokannya—salah, keterpurukannya? Yang mana saja, intinya sama. “Harusnya kau tidak perlu repot-repot begitu Soorinkun—tapi, terima kasih.” Masih bisa mengucapkan frasa tersebut dalam keadaan seperti ini. Masih saja memasang topeng gadis baiknya, walaupun sebenarnya buncah emosinya sudah mencapai batas; makhlum begini-begini emosinya juga labil—namanya juga manusia. Maaf saja deh kalau dirinya berbuat salah dan harus menerima semua ini dengan lapang dada—sedikit bukan tipikalnya. Terdiam mendapati Soorin kembali menyarankan kepadanya, untuk mnerima tawaran dari imotoonya yang sedari tadi menyodorkan sapu tangan miliknya tersebut pada Airi.
Karena tidak terfokus pada suatu hal sampai dirinya tidak sadar ada sedikit kebaikan lagi disekitar sini. Tangannya terjulur, menerima sapu tangan yang diulurkan kepadanya tersebut. Ikhlas untuk dipakai olehnya, tidak? Kalau jawabannya tidak, juga bukan masalah besar baginya—dirinya masih bisa memasang topeng tersebut lekat-lekat.“Benar aku boleh menggunakannya?” Jeda untuk beberapa saat. “Terima kasih kalau begitu—imotoonya Soorinkun” Sekon berikutnya sapu tangan tersebut mulai sedikit basah, digunakannya untuk membersihkan surai pirangnya yang dibasahi oleh cairan tidak teridentifikasi oleh dirinya. Benar-benar merepotkannya, menempatkan dirinya pada posisi yang tidak nyaman. Ingat tempat umum, dan harga diri. Dirinya hanya butuh waktu untuk berpikir, beberapa saat sudah cukup kok. “Sepertinya aku sudah banyak merepotkan. Aku akan pergi dari sini—kalau kalian mau.” Inikah solusi yang dipikirkan otaknya? “Aku tidak ingin menganggu waktu kalian.” Sedikit berdiri dari posisi awalnya, menatap kedua insane dengan seulas senyum tipis.
To the point saja. Salahkah?
Akan lebih bagus kalau ada yang bisa menghentikan keegoisan sematanya ini, mungkin.
Buru-buru, maaf jadinya aneh --a Interaksi sama keduanya 8)