Airi Ashikaga
Tokyo, Japan
1 January
O blood type
The Princess for Ashikaga's clan
A little bit Brother Complex with Ryuichi Ashikaga
Innocent-face ll Violin ll Dance ll Piano
Honey-Cologne
.:Currently in Ravenclaw:. Visualisation : Jessica Jung/ Jung Soo Yeon (SNSD)
Heran karena dirinya bisa bicara banyak—mungkin. Salah satu alasannya, ia juga butuh untuk berkomunikasi pada saat tertentu; sebut saja seperti sekarang ini. Coklat kayu kepemilikan gadis dengan surai pirang ini masih belum terlepas dari focus awalnya, menatap insan dihadapan dengan kedua sedikit senyum tipis. Basa-basi sedikit, dirinya juga sudah lama tidak bertemu dengan insan yang diajaknya berkonversasi ini cukup lama; terutama setelah insiden yang nampak kurang mengenakkan tersebut. Alhasil, hubungannya dengan kakak kembarnya ini masih belum membaik hingga sekarang—atau mungkin sampai waktu yang masih belum dapat ditentukan? Entahlah. Masih berada dalam posisi membatu, menatap insan dengan kromosom XY yang memandang dirinya untuk beberapa sekon. Seakan sedikit terkejut melihat dirinya berada di tempat ini sekarang? Bukan maksudnya juga—salahkan kedua kakinya yang tidak bisa diajak bekerja sama ini.
Pertanyaannya beberapa sekon yang lalu akhirnya dijawab—dengan frasa yang diawali dengan bahasa ibu seperti yang sering kali dirinya lakukan. Tidak terlalu buruk, ralat;sangat baik, mungkin lebih tepat untuk mengambarkan cara pemuda ini berkomunikasi dengan dirinya dalam bahasa Jepang. Disambung; bagaimana kabar dirinya. Satu kesalahan yang tidak begitu dirinya suka; penggunaan frasa ‘-san’, pada akhir nama depannya. Sedikit terkesan terlalu formal, terutama jika digunakan oleh insan dihadapannya ini. Sudah mengenal cukup lama, hm? Lebih baik berhenti menambahkan frasa formal tersebut dibelakang namanya—penyebutan marga atau namanya terengar sedikit lebih nyaman bagi auditori gadis muda ini. Melalui sekon berikutnya dengan helaan napas yang disambung dengan lengkungan kurva tipis bibir mungilnya. “Berhenti memanggilku dengan akhiran‘-san’, Soorinkun. Dan mengenai kabarku; seperti biasa….cukup baik.” Resonansinya terhenti, cukup baik Airi? Bohong sebenarnya, haha, mengingat kembarannya ini masih marah padanya dan sama artinya itu bukan hal baik.
Konversasi yang kini mulai dialihkan, diikuti dengan coklat kayu sang gadis muda yang bergulir pada si pelayan yang berkonversasi singkat dengan Soorin. Masalah kembalian? Sedikit aneh sebenarnya, tempat ini kerap dikunjungi oleh pelanggan dan sekarang justru sedikit kerepotan mengenai masalah kembalian. Bagaimana jika menukar beberapa galleon, Bank Gringgots seharusnya terletak tidak jauh dari tempat ini. Lupakan saja—melihat insan disebelahnya yang kini nampak sedikit tidak dapat bersabar. Menawarkan kepada dirinya es krim—sebagai ganti dari kembalian; sama artinya dengan traktir dong? Ia butuh untuk berpikir sejenak, memutuskan menerima tawaran tersebut atau tidak. Sekon berikutnya, fokus gadis muda ini bergulir pada sosok insan berkromosom kembar seperti dirinya, menyapa Soorin dari balik punggung dan melanjutkan dengan memesan es krim. Dirinya masih membatu, menatap lekat-lekat pada gadis muda yang melontarkan sedikit senyum kepadanya. Sudahlah, tidak berniat untuk tersenyum tulus kepada dirinya juga tidak apa kok—Airi juga tidak keberatan.
Sedikit tidak menghiraukan gadis muda dihadapnnya ini, seperti biasa, dirinya bukalah tipikal gadis yang mudah untuk berkenalan ataupun beramah-tamah pada orang yang baru dikenalinya. “Ah—soal es krim.” Pandangannnya bergulir kembali pada balik kounter, menatap pada tiap frasa yang tertuliskan dengan jelas pada menu. Jemarinya diletakkan ke atas meja kounter, diikuti dengan mengigit bibir bagian bawahnya dengan sedikit ragu. Tujuan utamanya datang ketempat ini adalah untuk menikmati es krim strawberry, jadi—kembali saja pada keputusan awalnya. Telunjuk kanannya diarahkan tepat pada menu, tertuju pada koordinat letak tulisan es krim strawberry tersebut berada dann dapat dirinya pastikan bahwa si pelayan sudah melihatnya dengan jelas. Pandangan gadis muda ini dialihkan lagi pada Soorin. “Arigatou atas es krimnya, Soorinkun.” Mengukir kembali senyum tipis yang ditujukan pada si pemuda.
Ngomong-ngomong, siapa gadis muda ini, hm? Ralat; siapanya Soorin—terdengar lebih tepat untuk dijadiakan sebuah pertanyaan. Jawaban yang muncul dalam otaknya, hasil pemikirannya sendiri atas apa yang telah ia lihat. Adik—pacarnya—sepupunya, siapanya? Coklat kayunya bergulir kembali pada sosok si pemuda yang kini, yang megarahkan telunjuknya tepat pada posisi Airi. Memperkenalkan dirinya pada gadis muda yang tak familiar bagi dirinya ini, hm? Lengkungan kurva asimetris yang kali ini muncul dalam paras asianya, diikuti dengan sedikit anggukan kecil setelah perkenalan selesai. Kemudian beralih kembali pada si gadis muda yang ternyata adalah adik perempuan Soorin, cukup membuatnya lega. Lega, hm? Entahlah—dirinya sendiri tidak dapat menafsirkan perasaannya ini kok. “Salam kenal, imotoo-nya Soorinkun.” Imotoo. Tentu saja dirinya akan menggunakan frasa ini, masih belum mengetahui namanya, bukan? Dan dirinya tidak berniat untuk bertanya soal hal ini.
Kembali pemuda ini melanjutkan, dengan sedikit saran untuk melanjutkan konversasi di meja. Konversasi? Haha—bahkan dirinya sendiri tidak begitu sadar bahwa sudah menjadi bagian dari konversasi ini. Tidak ada salahnya, berbasa-basi singkat sembari menikmati es krim strawberry yang dipesannya beberapa sekon yang lalu. Kedua tungkainya kembali bergerak, mengikuti pada arah si pemuda dan adik perempuannya ini bergerak. Diam itu emas—jadi jangan salahkan dirinya jika memilih untuk diam sekarang ini, haha. Gadis muda penyandang marga Ashikaga ini mengambil tempat disebelah kanan sang pemuda, masih tetap terdiam dan mengamati tiap gerakan yang dilakukan oleh kedua insan kakak-beradik dihadapannya ini. Bagaimana dengan es krim yang dirinya pesan? Tunggu beberapa saat, untuk kesopanan—biarkan imotoonya Soorinkun ini mendahului dirinya mengambil es krim.
Coklat kayu gadis muda ini masih belum terlepas dari sang pemuda yang asyik menikmati pancake yang dipesannya—tidak menatap kedua insan berkromosom kembar dihadapannya ini sama sekali. Begitu enaknya sehingga melupakan dirinya dan imotoonya sendiri? Haha, alhasil—belepotan. Pandangannya kembali diarahkan pada tas yang ia bawa sedari awal, dikuti dengan jemari yang menarik keluar kain sapu tangan miliknya. Jemarinya kembali bergerak, mengusapkan sapu tangannya tersebut pada bagian yang tadinya belepotan karena sirup maple. Sekon berikutnya, menarik sapu tangan yang kini telah ternodai oleh sirup maple; tangannya ini bergerak sendiri ngomong-ngomong. Bahkan otaknya masih belum mengkonfirmasi dan memikirkan baik buruknya jika ia melakukan hal ini. "Anoo, gomenne sudah seenaknya, Soorinkun—tapi tadi belepotan.” Bukan berarti dirinya sok mengurusi orang lain sebenarnya, hanya sedikit reflek saja. Pandangannya beralih pada adik perempuan Soorin, mau protes akan tindakan yang dilakukan olehnya? Tolong, dirinya tidak ada maksud untuk menyulut masalah baru.
Sungguh, Airi tidak bermaksud apapun. Oke? -Interaksi sama keduanya 8) -Sudah dapat ijin buat deskrip cara makan Soorin sampai belepotan juga, hehe~ Maaf ya Soona, ngga maksud juga sebenarnya /plakked - Maaf yah baru bisa rep :( dan maaf panjang habis asyik :))