愛理 pheromone

Airi Ashikaga
Tokyo, Japan
1 January
O blood type
The Princess for Ashikaga's clan
A little bit Brother Complex with Ryuichi Ashikaga
Innocent-face ll Violin ll Dance ll Piano
Honey-Cologne
.:Currently in Ravenclaw:.


Visualisation : Jessica Jung/ Jung Soo Yeon (SNSD)
hubby :3
Choi Soo-Rin

Arigatou:3
Big Brother - Ryuichi Ashikaga layout: *etoile filante inspiration xxx Galerry Icons:*Lee JinKi (Onew)
First Meeting #1
Tuesday, June 29, 2010 7:21 AM
“Airi benar-benar tidak berniat untuk pulang? Bagaimana dengan otousan nantinya?”

Otousan?
Tidak perlu khawatir, ia sudah menyelesaikannya.

Resonansi suaranya mengakhiri konversasi singkat dengan insan yang baru saja berbicara dengannya, hanya menjawab dengan jawaban seadanya tidak lebih dari satu hingga dua frasa yang berhasil ia ucapkan dengan sempurna. Baru beberapa sekon berlalu; handphone milik gadis penyandang marga Ashikaga ini kembali mengeluarkan dering—kali ini nada peringatan adanya pesan. Iris sewarna coklat kayu kepemilikan gadis muda dengan paras Oriental ini kembali terfokus pada layer handphone dalam genggaman, seraya menghantarkan kedua tungkainya pada velositas nol untuk sekon ini. 1 new message. Jemarinya menekan tombol untuk mengkonfirmasikan perintah selanjutnya, diiringi dengan muncul beberapa frasa yang menunjukkan sang pengirim, Kenichi-jisan; pamannya lagi. Masih tidak percaya akan keputusan yang telah Airi tentukan sendiri ini, hm? Berdeham sejenak—tidak berniat untuk memberikan jawaban lagi pada insane yang dikenalinya dengan baik sebagai paman ini. Handphonenya kembali dimasukkan kedalam tas—tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Ia hanya malas saja mengulangi hal yang sama, keputusannya ini sudah bulat; titik.

Pulang ke kediamannya di Jepang—sama saja dengan membawa masalah baru dalam kesehariannya. Dalam memorinya saat ini masih tergurat dengan jelas bahwa seorang Ryuichi Ashikaga masih marah kepada dirinya, akan apa yang telah ia lakukan. Sebagai seorang kembaran—yang selalu menami dirinya sejak kecil; mungkin nii-sannya ini adalah seorang yang seharusnya paling Airi patuhi. Melebihi otousan ataupun okaasan. Ah sudahlah, Airi sedikit terlalu malas untuk terjun kembali dalam topic yang menyangkut dalam memorinya ini. Hanya membuang waktunya dengan hal-hal yang tidak perlu. Ia punya alasan untuk tidak kembali kerumah, menghindari dari kakak tercintanya ini—setidaknya alasan ini sudah cukup kuat untuk membuatnya tidak berada didalam rumah. Obasan dan ojisannya juga sudah mengerti jika dirinya akan melarikan diri ke tempat pelarian ini. Mungkin karena itulah mereka terus mencari kabar sekaligus menelpon dirinya—tidak ada bosannya, ya? Airi sudah dewasa, dan dirinya bisa menjaga diri—tanpa Ryu untuk beberapa saat tidak akan menjadi masalh besar bagi dirinya yang sekarang ini.

Jadi—bisakah untuk membiarkan dirinya sendiri sekarang?

Menghela napas dalam-dalam dengan kedua mata yang terpejam; caranya untuk sedikit menenangkan diri. Sekon berikutnya pelupuk matanya kembali terbuka lebar, setelah menyembunyikan iris sewarna coklat kayu milik gadis berparas asia ini. Anak perempuan penyandang marga Ashikaga ini hanya mematung sejenak, sebelum dirinya kembali merapikan surai tersepuh pirang tersebut. Sudut dan obyek yang ia pandang—berbeda dengan tahun yang sebelumnya; pergantian title yang nampak dengan begitu jelas; Alley menjadi Mall. Velositas nol yang semula membuatnya terpaku selama beberapa sekon, berawal dari sebuah langkah yang terkesan sedikit lebih tenang tidak peduli lagi dengan suasana disekitarnya—dan tidak akan terlarut dalam ‘sedikit’ rasa kagum lagi. Hanya sedikit kurang terbiasa dengan suasana yang baru, tidak lebih dari itu. Insan dengan kromosom kembar ini menatap pergantian rotasi menit yang tercantum dalam layer ponsel miliknya; waktu yang menunjukkan hampir tengah hari. Ah, sudah tengah hari dan ia butuh beristirahat sejenak—koreksi sedikit; ia sudah capek berjalan kesana kemari.

Kedua kakinya kini kembali bergerak, menyusuri pertokoan dengan gaya yang terlihat lebih nyaman dalam pandangannya sekarang—terlihat lebih modern dari sebelumnya. Tertuju pada koordinat yang masih dipikirkan kembali dalam otaknya; bangunan dilantai satu dengan title Ice Cream Parlour yang seharusnya telah dibuka hari ini. Memastikan bahwa prediksi ini signifikan dengan keadaan; bukan sekedar pernyataan yang keberanrannya masih sedikit diragukan bahkan oleh dirinya sendiri. Coklat kayu kepemilikan gadis muda ini masih belum mendapati adanya tanda yang pasti; lupakan saja. Kembali melangkah masuk kedalam tujuan awalnya ini, setidaknya sudah ada beberapa orang yang berada di tempat ini—dan itu berarti sudah menerima adanya tamu benar bukan? Mengigit bibir bawahnya perlahan, seperti seorang yang kehilangan arah dan tidak mengerti tujuannya berada ditempat ini. Ah, benar—istirahat, sambil menikmati es krim mungkin?

Mengarahkan langkahnya pada counter yang sudah berada tidak jauh dari pandangannya sekarang ini, diikuti dengan sedikit berdeham. Satu scoop strawberry ice cream, setidaknya ia hanya butuh sesuatu untuk menenangkan diri. Kedua kakinya kini berhenti—tepat dibelakang sosok yang sedikit familiar bagi gadis muda ini. Soorin-kun? Mungkin ini juga yang disebut dengan keberuntungan ditengah hal buruk yang ia alami, hahah—melantur dirinya. “Soorin-kun?” Memindahkan posisi berdirinya tepat disebelah si insan yang disapanya dengan nada sedikit memastikan ni. Familiar baginya namun bukan berarti tepat seperti apa yang ia duga. Kalau salah, sama saja membuat dirinya malu bukan? Beruntung yang disapanya ini adalah orang yang tepat. Gadis dengan surai tersepuh pirang terang ini kembali mentransformasikan senyum tipis diwajahnya, ditujukan kepada insan dihadapannya ini. “Apa kabar, Soorin-kun?”Justru bertanya tentang keadaan si entitas berkromosom XY dihadapan, lupa dengan tujuan awalnya yang hendak memesan es krim. Mau bagaimana lagi, ia juga makhluk sosial—butuh seseorang untuk diajak berkonversasi seperti sekarang ini contohnya.

Soal es krim, bisa ia pikirkan nanti.


Choi Soorin—saya menyapa anda 8)


comment?