Airi Ashikaga
Tokyo, Japan
1 January
O blood type
The Princess for Ashikaga's clan
A little bit Brother Complex with Ryuichi Ashikaga
Innocent-face ll Violin ll Dance ll Piano
Honey-Cologne
.:Currently in Ravenclaw:. Visualisation : Jessica Jung/ Jung Soo Yeon (SNSD)
“Tidak bisakah kalian tidak melakukan hal ini lagi, eh?!”
Tersengal.
Airi, gadis berbadan mungil ini masih tetap berusaha menyesuaikan langkah kakak kembarnya yang jauh lebih cepat darinya. Sesekali manik coklat kayu miliknya bergulir ke koordinat tepat dibelakang kepalanya—membuat gadis ini menjadi jauh lebih sulit untuk mengikuti langkah sang kakak kembarnya. Kembar—begitulah orang di daerah sekitar kediaman menilai dirinya dan Ryuichi, terlahir sebagai generasi terakhir bagi klan Ashikaga. Keluarga yang masih tetap berpegang teguh pada tradisionalitas sekaligus merupakan Klan samurai terpandang di Jepang—terutama di daerah Tokyo. Berbeda dengan Ryuichi yang masih dididik keras oleh Otou-san, gadis berumur sebelas tahun ini sedikit dibebaskan dari keharusan turun-temurun Klan Ashikaga—mempelajari tentang samurai. Ia. Tidak. Mungkin. Mau. Kamisama, beruntung masih ada Ryuichi yang meneruskan klan, yah—meskipun dirinya sendiri terkadang mempelajari beberapa teknik karena berbagai macam alasan dari Ryuichi.
"Ichi-nii—"
Suara sopran diimbangi dengan sedikit tarikan napas ringan, menyesuaikan dengan langkah sang gadis yang kali ini dibiarkan terhenti begitu saja Sosok kakak kembar yang terlahir mendahuluinya masih tetap menggenggam tangan gadis mungil ini dan membuatnya memutuskan untuk sedikit mempercepat langkahnya. Badan mungilnya sesekali menubruk sosok tak dikenal yang tengah terpaku melihat dirinya dan Ryuichi. Seolah mereka milhat sebuah penampakan yang sangat menakjubkan—sampai-sampai tidak dapat mengendalikan posisi mereka sendiri yang menghalangi jalan si kembar. Kelereng coklat kembarnya masih menatap lurus beberapa oknum—beberapa diantaranya langsung mengalihkan pandangan begitu menatap dirinya. Salah bukan menghindari tatapannya, namun menghindari tatapan sosok kakak kembarnya.
Dan sampai jarak ini pun suara tinggi Otou-san masih tetap terdengar menerobos kerumunan. Sepertinya para bawahan juga sudah dikerahkan untuk membawa pulang kembali dirinya dan Ryuichi, benar-benar tidak ada yang bisa menentang perkataan Otou-san. Walaupun sebenarnya tidak ada gunanya menyuruh bawahan yang tidak pernah berhasil membawa pulang kerumah mereka. Bagaimana dengan Okaa-sama? Setidaknya Okaa-san jauh lebih baik daripada Otou-san, Okaa-sama bisa membujuk otou-san seperti biasanya. Sekarang hanya tinggal mengharapkan keberuntungan yang diturunkan oleh kamisama kepada dirinya dan Ryuichi. Para bawahan yang diutus tidak berhasil menemukannya. “Kau baik-baik saja kan?” Kelereng kembarnya kini bergulir kembali pada sosok kakak kembarnya, menjawab dengan anggukan kecil, “Ya…” Jeda. “Ti-tidak apa-apa…” Detik berikutnya—menarik napas lagi.
Masih tetap menggenggam erat tangan kakak kembarnya tersebut, memperlambat langkahnya karena sedikit mengatur kembali napasnya yang masih tetap tersengal. Bisa dikatakan sebenarnya ia tidak ikut andil dalam masalah ini—hanya saja Ryuichi yang tiba-tiba menariknya begitu saja membuatnya mengerti. Masalah aktifitas yang sangat sering membuat otou-san naik darah, kembar Ashikaga yang menyukai musik. Tidakkah ini normal bagi anak sebelas tahun seperti mereka berdua? Sayang otou-san yang masih berpegang teguh pada tradisionalitas menentang hobi mereka. Okaa-san juga sepertinya harus diminta bantuan lagi akan hal ini—setidaknya dicoba untuk sedikit membujuk? Kemungkinannya masih sangat kecil—satu dibandingkan seratus. Berbeda dengan bibinya, Kyoko Ashikaga yang bisa menerima perkembangan mereka apa adanya. Salah, bibinya yang satu ini justru jauh lebih mengerti mereka berdua. Jadi , tempat pelarian mereka yang terakhir—tentu saja rumah bibi Kyoko.
Detik kemudian langkahnya diperlambat—berada tepat didepan masion bergaya modern yang kerap kali mereka kunjungi disaat seperti ini. Jauh berbeda dengan gaya rumahnya yang tradisional. Disambut dengan sosok Kenichi Ashikaga yang disertai dengan seulas senyum simpul di wajahnya. Sudut bibir gadis mungil ini tertarik, membentuk seulas senyum sebagai balasan dari apa yang baru saja dilakukan oleh pamannya ini. Tanpa berlama-lama lagi, melangkahkan kakinya melewati gerbang dan mendapati sosok bibi Kyoko seolah sudah menunggu kedatangan keponakan kembarnya ini. Mungkin kedatangan mereka sudah terpikirkan? ”Oh, kalian.. pasti bertengkar dengan ayah kalian seperti biasa kan?” Sekali lagi gadis mungil ini mengulum senyum tipis—masih ragu. Bertengkar, hem? Mengiyakan pernyataan bibinya ini dengan sebuah anggukan kecil, sebelum kemudian mengikuti sosok kakak kembarnya lagi. Menarik ujung pakaian Ryuichi untuk memperlambat langkah Ryuichi.
Sungguh. Ai butuh sedikit istirahat sekarang, Ichi-nii.
Menggerakkan tungkai kakinya pada posisi yang sesuai dengan Ryuichi, memasuki studio musik yang merupakan tujuan terakhir mereka begitu mencapai kediaman rumah bibi Kyoko ini. Kelereng coklat kayu gadis sebelas tahun ini kembali bergulir, menatap burung hantu yang tengah bertengger di sisi jendela. Membiarkan Ryuichi yang mengurusinya sebelum mendapatkan kembali sebuah pernyataan yang terlontar dari Ryuichi. Kembali menatap obyek yang baru saja hadir didepannya, sebuah surat dengan label yang sama antara miliknya dan milik Ryuichi, makhlum—karena kembar? Mengulurkan tangannya menerima surat tersebut, dan pada detik berikutnya membuka surat miliknya.
SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
Kepala sekolah: Cerberus V. Strifheim (Order of Merlin, Kelas Pertama, Konfederasi Sihir Internasional)
Mrs. Ashikaga yang baik, Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan. Tahun ajaran baru mulai 1 September. Kami menunggu burung hantu Anda paling lambat 31 Juli.
Hormat saya, Elfleda L. Flanella Wakil Kepala Sekolah
Tidak begitu penting.
Hanya saja—bisa dibilang sebagai salah satu jalan keluar yang diberikan oleh Kamisama untuknya? Meletakkan surat tersebut diatas meja kecil yang berada tidak jauh dari posisinya, menggerakkan kembali posisi tungkainya yang semula digunakan untuk menopang tubuhnya. Mendekat kearah Grand Piano yang sering dimainkannya sejak kecil, diikuti dengan kelereng yang masih menatap sosok sang kakak kembarnya. "Jadi kau mau menyanyi lagu apa, Ai?” Meletakkan jemari mungilnya keatas tiap tuts piano—mengalihkan pandangannya dari sosok sang kakak.